Kamis, 28 Agustus 2008
Banjir
Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan selama 2007 lebih 600 hektar (ha) areal tanaman hortikultura meliputi sayuran dan buah-buahan mengalami gagal panen atau puso akibat bencana banjir.
Areal tanaman sayur-sayuran yang terkena banjir seluas 663,1 ha dengan gagal panen 468,7 ha atau lebih tinggi dibanding tanaman buah-buahan yakni seluas 228,1 ha yang mana puso mencapai 146,3 ha.
Komoditas sayuran yang mengalami gagal panen pada 2007 yakni cabai, bawang merah, bawang putih, kentang, tomat, kubis, kacang panjang, ketimun, terong, sawi, bayam, pare, gambas, wortel dan kangkung. Sedangkan untuk buah-buahan terdiri jeruk, pisang, rambutan, durian, salak, semangka, alpukat dan melon.
Sementara itu mengenai pengaruh bencana banjir di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama dua bulan terakhir terhadap komoditas hortikultura, dia menyebutkan, di kedua provinsi tersebut selama Desember hingga Januari 2008 sebanyak 39,3 ha terkena banjir yagn mana 25 ha diantaranya gagal panen.
Di Jawa Tengah sebanyak 25,3 ha tanaman pisang, cabe, bawang merah dan kacang panjang yang tersebar di Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Demak dan Sragen terkena banjir dengan tingkat puso mencapai 11 ha.
Sedangkan di Jawa Timur seluas 14 ha tanaman cabai, terong, gambas, timun dan melon di Kabupaten Kediri, Magetan, Ngawi dan Trenggalek terkena banjir dan keseluruhannya mengalami gagal panen.
Selasa, 26 Agustus 2008
Pertanian Organik
Memasuki abad ke-21 banyak keluhan-keluhan masyarakat utamanya masyarakat menengah ke atas tentang berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah, pengapuran, dan lain-lain, yang disebabkan pola makan. Banyak sekali bahan makanan yang diolah dengan berbagai tambahan bahan kimia. Disamping itu budaya petani yang menggunakan pestisida kimia dengan frekuensi dan dosis berlebih akan menghasilkan pangan yang meracuni tubuh konsumen. Adanya logam-logam berat yang terkandung di dalam pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.Pada saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di negara itu, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan hal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi sektor ekonomi (Wood, Chaves dan Comis, 2002). Dalam era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini Australia telah mengambil peluang ini dengan mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi dan sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).
Peluang Indonesia menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki 20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yang sangat beragam, ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya untuk pertanian organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yang saling sinergis untuk menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen organik terkemuka
Indonesia yang beriklim tropis, merupakan modal SDA yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel dan kentang berturut-turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha. Selanjutnya survey yang dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8 pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 % adalah sayuran impor (Rizky, 2002).
Sistem Pertanian Organik Sejak tahun 1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya. Demikian juga ada produk sayuran bebas pestisida seperti yang diproduksi oleh Kebun Percobaan Cangar FP Unibraw Malang. Walaupun demikian, produk organik yang beredar di pasar Indonesia sangat terbatas baik jumlah maupun ragamnya.
Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.
Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan pestisida, fungisida pada petani sudah merupakan hal yang sangat akrab dengan petani kita. Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.
Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya adalah karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik. Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).
Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yang berkembang yang berkembang pesat sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.
Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993). Pengembangan pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam Prihandarini, 1997).
Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, tebon, dan sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis) sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.
Teknik Budidaya Organik
Teknik Budidaya merupakan bagian dari kegiatan agribisnis harus berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu, teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.
Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen. Berbagai sayuran khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel. (Daucus carota).
Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup tinggi disamping juga mengandung antioksidan yang dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yang ditanam pada saat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau dan pengalih hama. Ada juga tanaman lain yang ditanam untuk tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas.
Dalam upaya penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi secara perlahan. Untuk memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli selalu diberi pupuk kandang ayam dengan dosis 20 ton/ha. Lahan bekas tanaman brokoli selanjutmya dirotasi dengan tanaman wortel yang dalam penanamannya tidak perlu lagi diberi pupuk kandang. Nantinya setelah tanaman wortel dipanen atau 100 hari kemudian, lahan tersebut dapat ditanami brokoli kembali.
Pupuk Organik
Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Keadaan ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan. Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan, khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen (N) dan kalium (K).
Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.
Efisiensi penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yang berjumlah enam buah telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini belum terlaksana. Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.
Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak berimbang.
Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan.
Industri pupuk organik saat ini mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan, antara lain seperti ; PT Trimitra Buanawahana Perkasa yang bekerjasama dengan PT Trihantoro Utama bersama Pemda DKI Jakarta dan Pemkot Bekasi yang saat ini akan mengolah sampah kota DKI Jakarta, PT Multi Kapital Sejati Mandiri yang bekerjasama dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan Pemda Kabupaten Brebes Jawa Tengah yang mengolah sampah kota dan limbah perdesaan. PT PUSRI selain memproduksi pupuk kimia, saat ini bersama PT Trihantoro Utama dan Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta juga memproduksi pupuk organik. Sampah dan limbah organik diolah dengan menggunakan teknologi modern dengan penambahan nutrien tertentu sehingga menghasilkan pupuk organik yang berkualitas.
Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.
Beberapa hasil penelitian di daerah Pati, Lampung, Magetan, Banyumas, organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yang dihemat mencapai Rp. 50.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen. Keuntungan yang diperoleh petani kedelai naik rata-rata p. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998).
Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan. Pengujian lapang terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) juga menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56 persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi. Dengan adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.
Pengendalian Hama & Penyakit yang Organik
Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi.
Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit tumbuhan. Seperti diketahui, terdapat sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya adalah karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Cara-cara lain dalam pengendalian OPT selain pestisida sintetik, pestisida biologi dan pestisida botani antara lain yaitu cara pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis. Pestisida dapat berasal dari bahan alami dan dapat dari bahan buatan. Di samping itu, pestisida dapat merupakan bahan organik maupun anorganik. Secara umum disebutkan bahwa pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau menolak penggunaan pupuk sintetis pestisida sintetis, dan senyawa tumbuh sintetis.
OPM versus IPM
Ada istilah yang juga penting untuk diketahui yaitu Organik Pest Management (OPM), yaitu pengelolaan hama dan penyakit menggunakan cara-cara organik. Selama ini telah lama dikenal istilah Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated Pest Management (IPM). Persamaan diantara keduanya adalah bagaimana menurunkan populasi hama dan patogen pada tingkat yang tidak merugikan dengan memperhatikan masalah lingkungan dan keuntungan ekonomi bagi petani. Walaupun demikian, ada perbedaan-nya yaitu bahwa pestisida sintetik masih dimungkinkan untuk digunakan dalam PHT, walaupun penggunaannya menjadi ‘bila perlu’. ‘Bila perlu’ berarti bahwa aplikasi pestisida boleh dilakukan bila cara-cara pengendalian lainnya sudah tidak dapat mengatasi OPT padahal OPT tersebut diputuskan harus dikendalikan karena telah sampai pada ambang merugikan.
Bila dalam PHT masih digunakan pestisida sintetik, maka PHT tidak dapat dimasukkan sebagai bagian dalam pertanian organik. Akan tetapi, bila pestisida sintetik dapat diganti dengan pestisida alami, yang kemudian disebut sebagai pestisida organik, atau cara pengendalian lain non-pestisida maka PHT dapat diterapkan dalam pertanian organik. Cara-Cara Pengendalian Non-Pestisida yang Aman Lingkungan Banyak cara pengendalian OPT selain penggunaan pestisida yang dapat digunakan dalam pertanian organik. Salah satunya yaitu dengan menghindarkan adanya OPT saat tanaman sedang dalam masa rentan. Cara menghindari OPT dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanam, pergiliran tanaman, mengatur jarak tanam ataupun dengan cara menanam tanaman secara intercropping. Selain itu, penggunaan varietas tahan merupakan suatu pilihan yang sangat praktis dan ekonomis dalam mengendalikan OPT. Walaupun demikian, penggunaan varietas yang sama dalam waktu yang berulang-ulang dengan cara penanaman yang monokultur dalam areal yang relatif luas akan mendorong terjadinya ras atau biotipe baru dari OPT tersebut.
Cara fisik dan mekanis dalam pengendalian OPT dapat dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain dengan sanitasi atau membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sakit atau hama. Selain itu, hama dapat diambil atau dikumpulkan dengan tangan. Hama juga dapat diperangkap dengan senyawa kimia yang disebut sebagai feromon, atau menggunakan lampu pada malam hari. Hama juga dapat diusir atau diperangkap dengan bau-bauan lain seperti bau bangkai, bau karet yang dibakar dan sebagai-nya. Penggunaan mulsa plastik dan penjemuran tanah setelah diolah dapat menurunkan serangan penyakit tular tanah. Hama dapat pula dikendalikan dengan cara hanya menyemprotkan air dengan tekanan tertentu atau dikumpulkan dengan menggunakan penyedot mekanis.
Pengendalian dengan cara biologi merupakan harapan besar untuk pengendalian OPT dalam pertanian organik. Cara ini antara lain menyang-kut penggunaan tanaman perangkap, penggunaan tanaman penolak (tanaman yang tidak disukai), penggunaan mulsa alami, penggunaan kompos yang memungkinkan berkembangnya musuh alami dalam tanah, dan penggunaan mikroba sebagai agen pengendali.
info
Hobi berkebun kini makin digemari. Banyak dilakukan di pekarangan rumah, halaman sekolah, atau tempat-tempat terbuka lainnya. Di Jakarta, kegemaran ini telah merambah sudut-sudut perumahan serta bantaran sungai. Memanfaatkan lahan tidur untuk pertanian kota (urban agriculture). Namun, dapatkah kegiatan berkebun diwujudkan didalam rumah? Dengan sisa lahan yang sempit lagipula terbatas.tanpa harus banyak mengeluarkan waktu biaya, atau tenaga. Bisa saja, vertikultur adalah jawabannya.
Melalui sedikit kreativitas, sebuah kebun kecil dapat dipindahkan ke dalam rumah. Nama
vertikultur berasal dari bahasa Inggris, verticulture. Istilah ini terdiri dari dua kata , yaitu vertical dan culture. Di dalam dunia bercocok tanam, perngertian vertikultur adalah budidaya pertanian dengan cara bertingkat atau bersusun. Pada dasamya jenis tani ini tidak jauh berbeda dengan mengolah tanah di kebun atau sawah. Perbedaan yang mencolok hanya terletak pada lahan yang digunakan dalam sistem pertanian konvensional misalnya, satu meter persegi mungkin hanya bisa menanam lima batang pohon. Dengan pola ini, mampu ditanami sampai 20 batang.
”Teknik bercocok tanam bertingkat ini biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman semusim, seperti sayuran,” ujar Ning Hermanto (45), yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Lili Jakarta Utara. Tidak menutup kemungkinan jenis pohon obat atau tanaman hias juga dapat ditanam. Selain dapat menambah gizi keluarga, petani yang mempunyai lahan luas berpeluang untuk melipatgandakan hasilnya. Suasana pun tampak lebih asri dan segar. Demikian yang diutarakan wanita yang sering menjadi fasilitator pertanian ekologis di Jakarta dan Depok itu.
Hal serupa juga ditambahkan oleh pemerhati masalah pertanian dari KONPHALINDO (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutandan Alam Indonesia), Sri Widiastuti. Menurutnya, pertanian vertikultur sangat cocok sekali diterapkan dikota-kota besar seperti Jakarta. Sanggup pula dibudidayakan di daerah rawan banjir. Pasalnya, kebun mini ini dapat dipindah-pindahkan dengan mudah. Selain itu, amat berguna untuk mengisi waktu luang bagi ibu-ibu rumah tangga, remaja, atau para pensiunan. Bila hasilnya berlimpah dapat dijual untuk menambah income keluarga. ”Vertikultur merupakan solusi pertanian masa depan. Hemat lahan dan ‘aman bagi lingkungan,” tegasnya. Murah dan Mudah Karena pengertiannya pertanian bertingkat, sistem yang dipakai tidak ubahnya seperti sebuah tangga pada umumnya. Bersusun ke atas dan tentu saja tidak perlu mencangkul atau membajak tanah. Dalam pembuatan ‘’tingkat” alat dan bahan banyak tersedia di sekitar kita. Untuk pernbuatan rangka dapat dipakai kayu, bambu, atau papan. Modelnya pun terserah saja. Yang penting sanggup menopang atau mengisi beberapa buah tanaman. Ada beberapa tipe yang urnum dipakai seperti berbentuk persegi panjang, segitiga berjenjang atau seperti anak tangga.
Dapat pula digantung di langit - langit atau atap kamar. Ukuran tinggi rak tersebut sewajamya, agar perawatan pohon mudah dilakukan. Haï lain yang harus diperhatikan. Beri jarak sekitar 30-50 cm dan permukaan lantai. Tak perlu bingung untuk media tanam. Tempat hidup pohon-pohon itu dapat dipakai bekas kaleng cat, biskuit atau wadah plastik minyak pelumas. Barang-barang tersebut aneka jenis pot-pot tanaman yang banyak dijual. Begitu pula dengan memanfaatkan gelas air minum minerai, ember bekas serta dapat memakai kantung plastik jenis polybag. ”Manfaatkan benda-benda yang tidak terpakai untuk membuat pot-pot tanaman,” pesan lbu Ning, yang pemah meraih Juara l Lomba Pekarangan Produktif Tingkat DKI Jakarta pada Expo Agribisnis Tahun 1999 lalu.
Syarat pernbuatan rak itu tidak hanya kuat, namun juga fleksibel. Dapat dengan mudah diletakkan di mana saja. Diteras samping, halaman depan, bahkan di dalam ruangan. Pot tanaman juga dapat ditata sedemikian rupa. Dengan memanfaatkan kerangka penyangga untuk menggantung wadah tanaman yang ringan. Dalam budidaya sayuran letakkan pohon yang banyak membutuhkan sinar matahari seperti cabai, selada atau sawi pada bagian yang paling atas. Sedangkan tanaman jenis ginseng, seledri, serta kangkung di bagian tengah atau bawah. Kombinasi TABULAPOT (Tanaman Buah Dalam Pot ) dapat disusun untuk menambah ramai keadaan. Juga, tampilan koleksi tanaman hias atau obat membuat suasana ”kebun” menjadi lebih indah dan bervariasi.
Menurut penuturan pehobi yang tidak pemah mengenyam pendidikan pertanian itu, sebelum bercocok tanam sebaiknya mengenali sifat-sifat tanaman. Beberapa jenis sayuran kadangkala cocok dibudidayakan di daerah dataran rendah atau dataran tinggi yang dingin. Bila membeli benih tanyakan pada penjual apakah cocok ditanam di daerah sekitar.
Aneka sayuran mampu hidup di daerah panas seprti Jakarta antara lain sawi, bayam, katuk serta kemangi. Tumbuhan itu banyak di tanam secara perorangan di rumah atau pada lahan pertanian kota. Petani vertikultur juga dapat membuat bibit sendiri. Dengan penyemaian sederhana yang diambil dari pohon yang telah mampu menghasilkan bibit. Caranya yaitu dengan membiarkan buah matang atau setengah kering di pohon. Lalu bijinya dikeringkan dengan cara dijemur. Untuk benih tanaman semusim, pilih yang bentuknya bagus dan tidak cacat, serta tenggelam bila direndam air. Wadah kotak kayu, kotak plastik persegi empat atau polybag kecil sangat baik dipakai sebagai tempat persemaian. Untuk pengadaan bibit tanaman lain dapat diperoleh dari hasil stek atau cangkokan. Bagi yang doyan makan tomat, pare, kacang panjang atau mentimun, dapat pula menanam dengan cara ini. Sebagai wadahnya dipakai tempat yang lebih besar, seperti drum bekas, kaleng cat besar, atau karung bekas beras. Tentu saja di beri air, atau penyangga dari kawat, bambau, atau tali sebagai tempat untukmerambatnya.
Sehat
Banyak cara hidup sehat. Salah satunya adalah mengkonsurnsi makanan yang sehat. Tanpa banyak mengandung unsur kimiawi, zat pewarna atau pengawet. Begitu pula dengan tinggal di rumah yang sehat pula. Penuh ”warna” oleh pepohonan, jauh dari pencemaran lingkungan. Lalu, apa hubungannya dengan jenis pertanian ini?. ”Teknik vertikultur adalah upaya untuk menghasilkan tanaman yang lebih higienis dan ramah lingkungan,” ungkap Sri Widiastuti, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia. Alasannya, menurut dia, bila pertanian tersebut dipakai dengan konsep organik, tentu hasilnya akan berbeda.
Di Indonesia dikenal dengan nama Pertanian Organik (PO). Yakni budidaya pertanian alami yang tidak menggunakan bahan kimia. Tanpa pemakaian pupuk kimia, pestisida kimia atau zat perangsang buatan lainnya. Hal ini bukan berarti tidak memakai bahan-bahan tersebut. Pemilik kebun dapat membuat sendiri pupuk alami dari bahan-bahan sederhana. Yang diperoleh dari limbah atau sampah dapur. Untuk urusan hama penyakit pun tak perlu khawatir. Resep tradisional peninggalan orangtua mampu menghadapi hama itu. Memang hasil panen dari kebun kecil ini tidak sebesar dengan cara konvensional. Yang umumnya memakai pupuk kimia jenis urea, TSP, atau NPK dalam unsur tanah. Hasil dari pemakaiannya mampu menghasilkan buah dan daya tumbuh pohon yang lebih baik.”Di balik itu ada hasil yang lebih membanggakan bila memakai cara alami. Asupan zat kimia ke dalam tanaman dapat diperkecil. Air untuk menyiram pohon juga jauh lebih bersih,” jelas Sri.
Berbeda dengan budidaya tanaman sayur yang banyak berada di pinggiran sungai. Kernudian hasilnya dijual ke pasar. Mungkin air kali yang tercemar digunakan untuk menyiram. Begitu pula dengan pola pertanian besar yang banyak memakai pestisida dan berbagai macam zat perangsang tumbuh, agar tanaman cepat dipetik hasilnya. Untuk budidaya sayuran cara vertikultur temyata hasil panen tidak jauh dengan petani umumnya. Pohon cabai dapat dipetik hasilnya pada usia tiga bulan. Tanaman sawi atau selada bisa dipanen ketika umur 40 hari. Terong atau pare berbuah di usia tiga bulan.
Begitu juga dengan bayam yang siap dipetik pada hari ke-28.
lbu-ibu tak perlu repot untuk pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli sayuran yang lebih fresh. Hasil ladang bertingkat di halaman jauh lebih segar daripada di sana. Lagipula ada kepuasan batin untuk itu. Memakan hasil bumi dari jerih payah sendiri, meskipun sedikit adanya
Ditulis dalam INFO HORTIKULTURA
info
Januari 17, 2008
Bercocok tanam secara vertikultur sedikit berbeda dengan bercocok tanam di kebun atau di ladang. Vertikultur diartikan sebagai teknik budi daya tanaman secara vertical sehingga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem bertingkat dan tidak membutuhkan lahan yang banyak, papar Temmy Desiliyarni, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB).
Jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan secara vertikultur biasanya adalah tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, berumur pendek, atau tanaman semusim seperti sayuran, dan memiliki sistem perakaran yang tidak terlalu luas.Bahan untuk tempat bertanam yang biasa dimanfaatkan sebagai model vertikultur adalah pipa paralon (PVC), bambu betung, kawat ayam, atau gelas bekas air mineral. Alat-alat yang diperlukan adalah bor listrik dan gergaji. Salah satu model vertikultur sederhana yang murah adalah dari bambu betung. Langkah-langkah pembuatannya adalah sebagai berikut :
1. Siapkan bambu betung berdiameter sekitar 10 cm sepanjang 1,5 m
2. Lubangi dengan hati-hati pembatas bagian dalam antar-ruas bambu menggunakan linggis
3. Belahlah ujung atas dan ujung bawah menjadi empat bagian sepanjang 10 cm
4. Di bagian tengah antara belahan satu dengan yang lainnya diberi sepotong kayu sehingga belahan-belahan tadi membuka dan bagian bawah bambu dapat digunakan untuk berdiri tegaknya bambu tersebut.
5. Setelah itu, dengan menggunakan bor listrik dibuat lubang-lubang yang berdiameter 1,5-2 cm di bagian sisi bambu secara bertingkat dan berselang seling sehingga tanaman tidak saling menutupi.
6. Lubang pertama dibuat dengan jarak 12,5 cm dari ujung bambu. Lubang tanam yang lain dibuat dengan jarak 25 cm antara lubang satu dengan lubang lainnya sehingga didapatkan dua belas lubang tanam.
7. Setelah itu, masukkan media tanam yang telah disiapkan ke dalam bambu hingga penuh
kerusakan
KAMI tidak tahu apa yang namanya merusak lingkungan, tetapi pekarangan milik saya ini kaya akan pasir. Dan itu artinya uang bagi saya, karena itulah yang menguntungkan," kata Sarto, warga Kecamatan Cangkringan yang ditemui Kompas, Selasa (26/8) ketika ditanya dampak penggalian pasir di pekarangan rumahnya.
Entah sejak kapan tanah penduduk warga Cangkringan dan juga warga seputarnya, berisi timbunan pasir yang sangat memancing warga menambangnya. Yang pasti, letusan Gunung Merapi menebar kandungan pasir di sungai-sungai atau di pekarangan penduduk. Mencari pasir di pekarangan sendiri adalah pekerjaan sambilan yang mendatangkan uang tambahan yang menggiurkan.
Namun, setelah penggalian pasir di pekarangan milik pribadi itu, yang tersisa hanya terowongan-terowongan atau kontur tanah yang tak lagi teratur. Praktis tanah pekarangan itu tak lagi bisa dimanfaatkan untuk apa pun setelah diambil pasirnya. Penduduk tak tahu harus berbuat apa, karena itu mereka membiarkan tanahnya tak terawat lagi. Tanah bekas penggalian pasir terbiarkan merana.
Dalam kondisi itulah Pemda Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang banyak memiliki lahan-lahan merana setelah digali pasirnya oleh masyarakat, memiliki alternatif pemikiran, yaitu menghidupkan bekas tanah galian pasir menjadi lahan pertanian. "Konsep itu disebut pertanian agrogeologi," kata Sabaruddin Wagiman Tjokrokusumo, Kepala Bidang Teknologi Konservasi dan Pemulihan Kualitas Lingkungan dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Menurut Sabaruddin, agrogeologi merupakan studi tentang proses terjadinya pupuk alami dari proses pembusukan atau kerusakan batuan karang vulkanis atau sejenis batu basal sebagai akibat tekanan iklim yang menghasilkan unsur penting, seperti karbon, hidrogen, oksigen, fosfor, kalium, kapur, belerang, besi, seng, dan tembaga. Di lingkup Kabupaten Sleman, yang setiap tahun menerima 1,7 juta ton muntahan Gunung Merapi, merupakan berkah yang bisa dimanfaatkan dalam pertanian berbasis agrogeologi.
Bambang, warga Kecamatan Cangkringan, menyebutkan, di Kecamatan Cangkringan ada 20 lebih tempat penambangan pasir yang telantar dan terbiarkan merana. "Kerusakan lingkungan di wilayah ini cukup parah, maka dengan adanya proyek agrogeologi itu, rasanya tepat untuk membenahi lingkungan Merapi. Saat ini lereng Merapi merupakan pusat sumber air bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau ekosistem Merapi rusak, berarti bahaya besar bagi warga DIY," tandasnya. (top).
Di posting www.kompas.com
Pengembangan Proyek
Pengembangan Hortikultura
Di Kab Buton
Adalah sebuah proyek yang bertujuan untuk mengaktifkan sektor holtikultura dan meningkatkan pendapatan petani kecil pada daerah non irigasi (lahan tak berpengairan) dengan memberikan bantuan yang berupa fasilitas dasar pertanian dan teknik cocok tanam holtikultura. Proyek ini dilaksanakan pada 31 daerah di 15 propinsi dan pelaksana proyeknya adalah dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian. Dari total biaya 10.359.000.000,00 yen (dana tercairkan 8.407.000.000 yen), JBIC mengeluarkan dana sebesar 7.769.000.000 yen (dana tercairkan 4.612.000.000 yen). LA ditandatangani pada bulan Desember 1996. Dan pada bulan Desember 2002, dana pinjaman sudah dicairkan semua. Konsultan proyek ini adalah Nippon Koei dan perusahaan-perusahaan setempat (PT Pusat Pengembangan Agribisinis, PT Trans Intra Asia, PT Andal Agrikarya Prima). Sedangkan pelaksana kontrak adalah perusahaan-perusahaan setempat.
Proyek ini ditujukan kepada 756 kepala keluarga untuk lahan seluas 500 hektar pada 7 desa di kecamatan Sampolawa dan 3 desa di kecamatan Batauga.Pelaksana proyek ini adalah Departmen Pertanian Propinsi Sulawesi Tenggara dan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Buton. Proyek ini berupa bantuan 200.000 batang bibit pohon, pupuk dan obat pembasmi
PERMASALAHAN
- Bibit pohon
Jeruk Siompu, yang ditanam sejak zaman dahulu di pulau Siompu sebelah barat pulau Buton, adalah tanaman yang menjadi sasaran proyek. Jeruk Siompu ini terkenal dengan rasanya yang sangat manis. Di 3 pasar yang berada di kota Baubau,dibandingkan dengan jeruk lainnya yang ukurannya sama, jeruk Siompu laku dijual dengan harga 2 kali lipat bahkan lebih.Oleh sebab itu, petani miskin yang membudidayakan ubi kayu dan jagung ini, menaruh harapan yang besar sekali pada proyek ini. "Kalau bukan jeruk Siompu, pasti kami tidak akan ikut serta". Demikian ungkap La Ode (57 tahun),ketua kelompok tani Desa Pogalampa Kecamatan Baubau, yang dulunya adalah petani jagung dan ubi kayu, dan untuk proyek kali ini telah menyiapkan lahan seluas 0,5 hektar. Dari 200 bibit pohon jeruk, setelah ditanam, ternyata hanya 3 batang saja yang jeruk Siompu, sedangkan sisanya kecil-kecil dan kecut. La Ode berkisah, "Kami diberi bibit jeruk yang bukan Siompu.
"Menurut data yang dihimpun dari para petani, dari 9880 bibit yang dibagikan, terdapat 7389 batang pohon yang menghasilkan buah. Dari pohon yang berhasil ditanam sampai menghasilkan buah tersebut, hanya 1452 yang menghasilkan jeruk Siompu, sisanya yang 5937 batang, ternyata berbuah kecil-kecil", jelas La Ode. Buah jeruk yang ditanamnya tidak laku dan sekarang perkebunan jeruknya dibiarkan begitu saja. Dikatakan juga, La Ode telah membuka lahan baru untuk bercocok tanam jagung dan ubi kayu. "Saya berharap bahwa dengan proyek jeruk ini, saya dapat meningkatkan kualitas hidup saya. Namun ternyata sia-sia saja harapan saya itu", kesah La Ode sambil menurunkan kedua bahunya.
- Partisipasi Penduduk
Di Desa Lapandewa Makmur kecamatan Lapandewa (dulu kecamatan Sampolawa) pun juga terdapat kasus yang sama. Di desa ini, jumlah petani yang ikut serta dalam proyek ada 148 orang dan luas lahan perkebunan untuk proyek adalah 138 hektar. Dari bibit pohon jeruk yang dibagikan, setelah ditanam, ternyata banyak yang buahnya kecil-kecil dan masam, dan ini jelas-jelas bukan jeruk Siompu. Kepala Desa Lapandewa mengatakan bahwa sebelum tahun 2000, ia pernah dipanggil Dinas Pertanian dan di
- Irigasi
Desa Lapandewa awalnya memang tidak memiliki fasilitas irigasi. Penduduk menampung air hujan dan menggunakannya untuk bertani bawang, jagung dan ubi kayu. Dengan proyek bantuan fasilitas irigasi ini, penduduk sangat gembira. Namun, kegembiraan ini tidak berlangsung lama karena setelah setengah tahun dibangun, fasilitasnya rusak. Hingga saat NINDJA ke
Desa Busoa Kecamatan Batauga adalah desa yang tidak memiliki fasilitas irigasi dan mendapatkan bantuan pembangunan fasilitas irigasi melalui proyek ini. Akan tetapi, karena air tidak mengalir, Dinas Pertanian membangun fasilitas yang kedua. Itu pun tidak begitu bagus, sehingga petani mengajukan protes. Dinas Pertanian mengatakan bahwa akan diberikan bantuan sebesar 1.500.000,00 rupiah sebagai biaya perbaikan, tetapi usulan ini ditolak oleh penduduk. "Dari semula, memang pihak pelaksana proyek tidak transparan dalam hal anggaran", demikian cerita Bahrudin (55 tahun) yang sekarang membiarkan lahan perkebunan jeruknya terbengkalai. Dari 300 bibit pohon jeruk yang diterimanya, hanya 5 yang berjenis Siompu. Sebagai gantinya, sekarang Bahrudin membuka lahan baru dan menanam kayu jati.
Masalah yang berhubungan dengan fasilitas irigasi dan bibit seperti halnya tertulis di atas, kami temui juga ada di Desa Lawela Kecamatan Batauga. Menurut ELSAIN, yang telah bergumul dengan masalah-masalah ini bersama dengan para petani, masalah serupa terjadi hampir di semua desa.
Rabu, 13 Agustus 2008
Mutiara Kuning Dari KalBar
Program Pemkab. Sambas telah mentargetkan selama tahun 2000-2005 melakukan rehabilitasi dan pengembangnan Jeruk seluas 10.000 ha dengan tidak hanya melibatkan petani jeruk saja, namun juga para pengusaha dan investor swasta. Dari hasil analisis produksi, diperkirakan akan terjadi booming produksi jeruk secara nasional pada tahun-tahun mendatang, dan kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk kondisi pengembangan jeruk dengan rendahnya harga jeruk. Pada tahun 2009, dengan asumsi produktivitas 12 ton/ha/tahun, maka produksi jeruk Kalimantan Barat diperkirakan mencapai 180.000 ton/tahun. Kondisi tersebut merupakan hal yang serius untuk segera dilakukan antisipasi dan jalan pemecahannya.
Pada saat era persaingan bebas dan ketat saat ini beberapa hal penting yang menjadi perhatian para produsen Jeruk adalah kualitas (rasa dan tampilan) yang baik dan sesuai dengan lidah umumnya konsumen, selain itu adalah kecerdasan menembus pasar yang semakin kompetitif. Suatu kenaifan rasanya apabila produk jeruk yang dijual hanya mengandalkan kepada bentuk jeruk segar (buah petik) saja, hal ini mengingat pasar di tingkat nasional telah banyak dipenuhi komoditas yang sama dari beberapa daerah bahkan import yang memiliki kualitas sama atau jauh lebih baik dan tentunya harga yang lebih kompetitif. Dalam upaya pengembangan jeruk (
Aspek agroinput dengan memperhatikan sumberdaya tanah dan bibit diperlukan analisis-analisis yang akurat akan sangat membantu mengingat terjadinya perubahan sifat-sifat alam yang mempengaruhi produksi. Dalam aspek agroproduksi, para petani jeruk telah lama membudidayakan tanaman jeruk dengan berbagai inovasi teknologinya. Secara umum aspek produksi telah banyak dikuasai oleh para petani jeruk dan para petani jerukpun selalu siap untuk menerima inovasi teknologi Jeruk guna meningkatkan performa jeruknya.
Daftar Bacaan
Dirjen Hortikultura, 2006. Artikel Kunjungan Menteri Pertanian, Kampus IPB
