Perkembangan Serangan Opt Saat Ini
Pada kondisi ini hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar. Contoh dari kasus ini adalah makin meningkatnya populasi dan kerusakan hama Thrips sp. pada tanaman cabai. Pada tahun kemarau 2006 Thrips menimbulkan kerugian yang besar pada usaha tani cabai di Tegal dan Brebes. Pada saat itu populasi sangat tinggi dan kerusakan berat, dan dilapangan tidak ada satu pestisida sintetik pun yang efektif mengendalikannya Pada tiga tahun terakhir ini menurut pengamatan penulis dan juga Laporan Safari Gotong Royong Nastari-Klinik Tanaman IPB (2007) serangan Thrips sp. Makin berat pada berbagai daerah pertanaman cabai seperti Brebes, Tegal, Pati, Klaten, Magelang dan Wonogiri. Thrips lebih berkembang pada musim kemarau, akan berkembang bila kemaraunya makin kering dan suhu rata-rata makin panas. Sebagai pembanding Thrips palmi pada terong di Taiwan mempunyai suhu optimum untuk perkembangan populasi pada 25 – 30º C (Chen dan Huang, 2004). Selain itu serangan antraknosa cabai (Colletotrichum sp.) pada tahun-tahun terakhir ini juga makin berat.
Cendawan fitopatogen ini berkembang pada musim hujan dan suhu yang hangat. Pengamatan penulis juga menunjukkan bahwa ekspresi gejala antraknosa cabai tidak hanya menimbulkan busuk pada buah tetapi juga mati ranting, sekali lagi menggambarkan makin beratnya penyakit ini. Penelitian dalam ruang terkendali di Australia menunjukkan bahwa peningkatan kadar CO2 dari 350 ppm menjadi 700 ppm meningkatkan jumlah bercak dan keparahan penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) pada Stylosanthes (Chakraborty et al. 2002). Apakah peningkatan antraknosa di Indonesia juga dipengaruhi peningkatan kadar CO2, masih perlu diteliti lebih lanjut.
Hama/Penyakit yang sebelumnya dianggap penyakit hama/penyakit minor berubah menjadi hama/penyakit penting. Contoh dari tipe perobahan ini adalah penggerek padi merah jambu (Sesamia inferens). Sebelumnya dinyatakan bahwa keberadaan penggerek batang merah jambu tidak banyak bila dibanding penggerek batang lainnya yaitu pengerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), dan penggerek batang padi putih (Scirpophaga innnotata). Pengamatan pada bulan April-Mei 2007 disejumlah tempat di Jawa yaitu Indramayu, Magelang, Semarang, Boyolali,Kulonprogo, dan Ciamis menunjukkan dominansi penggerek merah jambu dalam komunitas penggerek meningkat (Nastari Bogor dan Klinik Tanaman IPB, 2007). Kalshoven (1981) menyatakan bahwa penggerek merah jambu banyak berkembang didaerah-daerah kering yang mempunyai iklim kemarau yang jelas. Masih menjadi pertanyaan apakah peningkatan dominansi penggerek merah jambu berkaitan dengan musim kemarau yang lebih panjang. Pada musim hujan 2007 Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur mempunyai daerah kekeringan terluas dan melebihi rata-rata 5 tahun terakhir
Selasa, 02 September 2008
Antisipasi Perubahan Iklim
Antisipasi Perkembangan OPT Dalam Kaitannya Dengan Perubahan Iklim
Fakta di atas menunjukkan indikasi kuat tentang kaitan perubahan iklim sperti peningkatan suhu dengan masalah hama dan penyakit di Indonesia. Namun demikian untuk pemahaman masalah secara komprehensif perlu dilakukan kajian yang khusus dampak iklim terhadap perubahan hama dan penyakit sehingga dapat dirumuskan langkah antisipasi yang tepat baik oleh pemerintah, maupun masyarakat.
Pada kondisi ini hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar. Contoh dari kasus ini adalah makin meningkatnya populasi dan kerusakan hama Thrips sp. pada tanaman cabai. Pada tahun kemarau 2006 Thrips menimbulkan kerugian yang besar pada usaha tani cabai di Tegal dan Brebes. Pada saat itu populasi sangat tinggi dan kerusakan berat, dan dilapangan tidak ada satu pestisida sintetik pun yang efektif mengendalikannya Pada tiga tahun terakhir ini menurut pengamatan penulis dan juga Laporan Safari Gotong Royong Nastari-Klinik Tanaman IPB (2007) serangan Thrips sp. Makin berat pada berbagai daerah pertanaman cabai seperti Brebes, Tegal, Pati, Klaten, Magelang dan Wonogiri. Thrips lebih berkembang pada musim kemarau, akan berkembang bila kemaraunya makin kering dan suhu rata-rata makin panas. Sebagai pembanding Thrips palmi pada terong di Taiwan mempunyai suhu optimum untuk perkembangan populasi pada 25 – 30 º C (Chen dan Huang, 2004).
Menghadapi perubahan iklim dalam kaitan dengan perkembangan hama dan penyakit tanaman diperlukan beberapa langkah yang sesuai. Kajian komperehensif dampak perubahan iklim terhadap hama dan penyakit tanaman perlu dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat bagi pemerintah maupun petani. Selain itu diperlukan peningkatan pemahaman agroekosistem oleh petani sehingga lebih jeli mengamati dan mensikapi perubahan yang ada. Beberapa pengetahuan pribumi (indigenous knowledge) yang didasari oleh pengaturan masa tanam seperti pranata mangsa dalam masyarakat Jawa perlu dikaji kembali dan di rejuvenasi menghadapi perubahan yang berlangsung. Melihat masalah hama dan penyakit yang makin berat di Indonesia dari tahun ke tahun, perlu pendekatan sistem Pengendalian Hama Terpadu Biointensif (Bio-intensive IPM) yang mengoptimalkan sumberdaya hayati yang ada. Untuk itu semua, kerjasama antara petani, pemerintah (pusat-daerah), perguruan tinggi/lembaga penelitian , civil society yang riil diperlukan.
Fakta di atas menunjukkan indikasi kuat tentang kaitan perubahan iklim sperti peningkatan suhu dengan masalah hama dan penyakit di Indonesia. Namun demikian untuk pemahaman masalah secara komprehensif perlu dilakukan kajian yang khusus dampak iklim terhadap perubahan hama dan penyakit sehingga dapat dirumuskan langkah antisipasi yang tepat baik oleh pemerintah, maupun masyarakat.
Pada kondisi ini hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar. Contoh dari kasus ini adalah makin meningkatnya populasi dan kerusakan hama Thrips sp. pada tanaman cabai. Pada tahun kemarau 2006 Thrips menimbulkan kerugian yang besar pada usaha tani cabai di Tegal dan Brebes. Pada saat itu populasi sangat tinggi dan kerusakan berat, dan dilapangan tidak ada satu pestisida sintetik pun yang efektif mengendalikannya Pada tiga tahun terakhir ini menurut pengamatan penulis dan juga Laporan Safari Gotong Royong Nastari-Klinik Tanaman IPB (2007) serangan Thrips sp. Makin berat pada berbagai daerah pertanaman cabai seperti Brebes, Tegal, Pati, Klaten, Magelang dan Wonogiri. Thrips lebih berkembang pada musim kemarau, akan berkembang bila kemaraunya makin kering dan suhu rata-rata makin panas. Sebagai pembanding Thrips palmi pada terong di Taiwan mempunyai suhu optimum untuk perkembangan populasi pada 25 – 30 º C (Chen dan Huang, 2004).
Menghadapi perubahan iklim dalam kaitan dengan perkembangan hama dan penyakit tanaman diperlukan beberapa langkah yang sesuai. Kajian komperehensif dampak perubahan iklim terhadap hama dan penyakit tanaman perlu dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat bagi pemerintah maupun petani. Selain itu diperlukan peningkatan pemahaman agroekosistem oleh petani sehingga lebih jeli mengamati dan mensikapi perubahan yang ada. Beberapa pengetahuan pribumi (indigenous knowledge) yang didasari oleh pengaturan masa tanam seperti pranata mangsa dalam masyarakat Jawa perlu dikaji kembali dan di rejuvenasi menghadapi perubahan yang berlangsung. Melihat masalah hama dan penyakit yang makin berat di Indonesia dari tahun ke tahun, perlu pendekatan sistem Pengendalian Hama Terpadu Biointensif (Bio-intensive IPM) yang mengoptimalkan sumberdaya hayati yang ada. Untuk itu semua, kerjasama antara petani, pemerintah (pusat-daerah), perguruan tinggi/lembaga penelitian , civil society yang riil diperlukan.
OPT
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Organisme Pengganggu Tanaman Terhadap Tanaman Bawang Merah
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman sperti penyakit kresek dan blas pada padi, antraknosa cabai dan sebagainya. Sementara pada musim kemarau banyak masalah hama penggerek batang padi, hama belalang kembara, serta thrips pada cabai.
Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5º C untuk pertumbuhan populasinya (Bonaro et al. 2007). Contoh yang lain adalah pertumbuhan populasi penggerek batang padi putih berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, sementara itu panjang hari berpengaruh terhadap diapause serangga penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) di Jawa (Triwidodo, 1993). Umumnya serangga-serangga hama yang kecil seperti kutu-kutuan menjadi masalah pada musim kemarau atau rumah kaca karena tidak ada terpaan air hujan. Pada percobaan dalam ruang terkontrol peningkatan kadar CO2 pada selang 389- 749μl/L meningkatkan reproduksi tungau Tetranychus urticae (Heagle et al., 2002) Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen. Sebagai contoh adalah perkembangan populasi ulat bawang Spodoptera exigua pada bawang merah lebih tinggi pada musim kemarau, selain karena laju pertumbuhan
intrinsik juga disebabkan oleh tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen yang rendah
(Hikmah, 1997).
Daftar Pustaka
Hikmah, Y. 1997. Tingkat parasitasi larva Spodoptera exigua pada musim hujan dan
musim kemarau. Skripsi. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanaian
IPB.
Bonaro, O., A Lurette,, C Vidal, J Fargues. 2007. Modelling temperature-dependent
bionomics of Bemisia tabaci (Q-biotype) Physiological Entomology,32: 50-55
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman sperti penyakit kresek dan blas pada padi, antraknosa cabai dan sebagainya. Sementara pada musim kemarau banyak masalah hama penggerek batang padi, hama belalang kembara, serta thrips pada cabai.
Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5º C untuk pertumbuhan populasinya (Bonaro et al. 2007). Contoh yang lain adalah pertumbuhan populasi penggerek batang padi putih berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, sementara itu panjang hari berpengaruh terhadap diapause serangga penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) di Jawa (Triwidodo, 1993). Umumnya serangga-serangga hama yang kecil seperti kutu-kutuan menjadi masalah pada musim kemarau atau rumah kaca karena tidak ada terpaan air hujan. Pada percobaan dalam ruang terkontrol peningkatan kadar CO2 pada selang 389- 749μl/L meningkatkan reproduksi tungau Tetranychus urticae (Heagle et al., 2002) Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen. Sebagai contoh adalah perkembangan populasi ulat bawang Spodoptera exigua pada bawang merah lebih tinggi pada musim kemarau, selain karena laju pertumbuhan
intrinsik juga disebabkan oleh tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen yang rendah
(Hikmah, 1997).
Daftar Pustaka
Hikmah, Y. 1997. Tingkat parasitasi larva Spodoptera exigua pada musim hujan dan
musim kemarau. Skripsi. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanaian
IPB.
Bonaro, O., A Lurette,, C Vidal, J Fargues. 2007. Modelling temperature-dependent
bionomics of Bemisia tabaci (Q-biotype) Physiological Entomology,32: 50-55
Kamis, 28 Agustus 2008
obat
Belimbing Manis (Averhoa carambola)
Nama Lokal Belimbing manis (Indonesia), Belimbing manih (Minangkabau); Belimbing legi (Jawa), Belimbing amis (Sunda), ; Bhalimbing manes (Madura), Balirang (Bugis);
Deskripsi Pohon kecil, tinggi mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar dan ditemukan dari dataran rendah sampai 500 m dpi. Pohon yang berasal dari Amerika tropis ini menghendaki tempat tumbuh tidak ternaungi dan cukup lembab. Belimbing wuiuh mempunyai batang kasar berbenjol-benjol, percabangan sedikit, arahnya condong ke atas. Cabang muda berambut halus seperti beludru, warnanya coklat muda. Daun berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat teiur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda. Perbungaan berupa malai, berkelornpok, keluar dari batang atau percabangan yang besar, bungs kecil-kecil berbentuk bintang warnanya ungu kemerahan. Buahnya buah buni, bentuknya bulat lonjong bersegi, panjang 4-6,5 ern, warnanya hijau kekuningan, bila masak berair banyak, rasanya asam. Biji bentuknya bulat telur, gepeng. Rasa buahnya asam, digunakan sebagai sirop penyegar, bahan penyedap masakan, membersihkan noda pada kain, mengkilapkan barang-barang yang terbuat dari kuningan, membersihkan tangan yang kotor atau sebagai bahan obat tradisional. Perbanyakan dengan biji dan cangkok.
Untuk Penyakit Diabetes melitus, Kolesterol, Hipertensi;
Pemanfaatan BAGIAN YANG DIPAKAI : Daun, bunga, buah.
KEGUNAAN:
Bunga:
- Batuk.
- Sariawan (stomatitis)
Daun:
- Perut sakit. Gondongan (Parotitis).
- Rematik.
Buah:
- Batuk rejan.
- Gusi berdarah, sariawan.
- Sakit gigi berlubang.
- Jerawat. Panu.
- Tekanan darah tinggi.
- Kelumpuhan.
- Memperbaiki fungsi pencernaan.
- Radang rektum.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: Lihat resep.
Pamakaian luar: Daun secukupnya setelah dicuci bersih digiling halus sampai seperti bubur, dipakai sebagal tapal (pemakaian setempat) pada gondongan, rheumatism, jerawat, panu.
CARA PEMAKAIAN:
1. Pagel linu:
• 1 genggam daun belimbing wuiuh yang masih muda, 10 biji cengkeh,
• 15 biji lada, digiling halus lalu tambahkan cuka secukupnya.
• Lumurkan ketempat yang sakit.
2. Gondongan:
10 ranting muda belimbing wuiuh berikut daunnya dan 4 butir bawang merah setelah dicuci bersih lalu ditumbuk halus. Balurkan ketempat yang sakit.
3. Batuk pada anak.
Segenggam bunga belimbing wuiuh, beberapa butir adas, gula secukupnya dan air 1 cangkir, ditim selama beberapa jam. Setelah dingin disaring dengan sepotong kain, dibagi untuk 2 kali minum, pagi dan malam sewaktu perut kosong.
4. Batuk:
25 kuntum bunga belimbing wuluh, 1 jari rimpang temu-giring, 1 jari kulit kayu manis, 1 jari rimpang kencur, 2 butir bawang merah, 1/4 genggam pegagan, 1/4 genggam daun saga, 1/4 genggam daun inggu, 1/4 genggam daun sendok, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, diminum dengan madu seperlunya. Sehari 3 kali 3/4 gelas.
4. Batuk rejan:
• 10 buah belimbing. wuluh dicuci lalu ditumbuk halus-halus, diremas dengan 2 sendok makan air garam, lalu disaring. Minum, lakukan 2 kali sehari.
• Buah belimbing wuiuh dibuat manisan, sehari makan 3 x 6-8 buah.
5. Rematik :
• 100 gr daun muda belimbing wuluh, 10 biji cengkeh dan 15 biji merica dicuci lalu digiling halus, tambahkan cuka secukupnya sampai menjadi adonan seperti bubur. Oleskan adonan bubur tadi ketempat yang sakit.
• 5 buah belimbing wuluh, 8 lembar daun kantil (Michelia champaca L.), 15 biji cengkeh, 15 butir lada hitam, dicuci lalu ditumbuk halus, diremas dengan 2 sendok makan air jeruk nipis dan 1 sendok makan minyak kayu putih. Dipakai untuk menggosok dan mengurut bagian tubuh yang sakit. Lakukan 2-3 kali sehari.
6. Sariawan:
• Segenggarn bunga belimbing wuluh, gula jawa secukupnya dan 1 cangkir air direbus sampai kental. Setelah dingin disaring, dipakai untuk membersihkan mulut dan mengoles sariawan.
• 2/3 genggam bunga belimbing wuiuh, dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum, sehari 3 kali 3/4 gelas.
• 3 buah belimbing wuitjh, 3 butir bawang merah, 1 buah pala yang muda, 10 lembar daun seriawan, 3/4 sendok teh adas, 3/4 jari pulosari, dicuci lalu ditumbuk halus, diremas dengan 3 sendok makan minyak kelapa, diperas lalu disaring. Dipakai untuk mengoles luka-luka akibat sariawan, 6-7 kali sehari.
7. Jerawat:
• Buah belimbing wuluh secukupnya dicuci lalu ditumbuk halus, diremas dengan air garam seperlunya, untuk menggosok muka yang berjerawat. Lakukan 3 kali sehari,
• buah belimbing wuluh dan 1/2 sendok teh bubuk belerang, digiling halus lalu diremas dengan 2 sendok makan air jeruk nipis. Ramuan ini dipakai untuk menggosok dan melumas muka yang berjerawat. Lakukan 2-3 kali sehari.
8. Panu:
10 buah belimbing wuluh dicuci lalu digiling halus, tambahkan kapur sirih sebesarbiji asam, diremas sampai rata. Ramuan ini dipakai untuk menggosok kulit yang terserang panu. Lakukan 2 kali sehari.
9. Darah tinggi.
• 3 buah belimbing wuluh dicuci lalu dipotong-potong seperlunya, direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum setelah makan pagi.
• 10 buah belimbing wuiuh, 1 jari rimpang kunyit, 1/4 genggam daun meniran, 3 jari labu air, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, minum. Sehari 3 x 3/4 gelas.
10. Sariawan usus, getah empedu sedikit : Buah diolah menjadi selai, makan.
11. Sakit gigi berlubang:
5 buah belimbing wuiuh dicuci bersih, makan dengan sedikit garam, kunyah ditempat gigi yang berlubang.
Nama Lokal Belimbing manis (Indonesia), Belimbing manih (Minangkabau); Belimbing legi (Jawa), Belimbing amis (Sunda), ; Bhalimbing manes (Madura), Balirang (Bugis);
Deskripsi Pohon kecil, tinggi mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar dan ditemukan dari dataran rendah sampai 500 m dpi. Pohon yang berasal dari Amerika tropis ini menghendaki tempat tumbuh tidak ternaungi dan cukup lembab. Belimbing wuiuh mempunyai batang kasar berbenjol-benjol, percabangan sedikit, arahnya condong ke atas. Cabang muda berambut halus seperti beludru, warnanya coklat muda. Daun berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat teiur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda. Perbungaan berupa malai, berkelornpok, keluar dari batang atau percabangan yang besar, bungs kecil-kecil berbentuk bintang warnanya ungu kemerahan. Buahnya buah buni, bentuknya bulat lonjong bersegi, panjang 4-6,5 ern, warnanya hijau kekuningan, bila masak berair banyak, rasanya asam. Biji bentuknya bulat telur, gepeng. Rasa buahnya asam, digunakan sebagai sirop penyegar, bahan penyedap masakan, membersihkan noda pada kain, mengkilapkan barang-barang yang terbuat dari kuningan, membersihkan tangan yang kotor atau sebagai bahan obat tradisional. Perbanyakan dengan biji dan cangkok.
Untuk Penyakit Diabetes melitus, Kolesterol, Hipertensi;
Pemanfaatan BAGIAN YANG DIPAKAI : Daun, bunga, buah.
KEGUNAAN:
Bunga:
- Batuk.
- Sariawan (stomatitis)
Daun:
- Perut sakit. Gondongan (Parotitis).
- Rematik.
Buah:
- Batuk rejan.
- Gusi berdarah, sariawan.
- Sakit gigi berlubang.
- Jerawat. Panu.
- Tekanan darah tinggi.
- Kelumpuhan.
- Memperbaiki fungsi pencernaan.
- Radang rektum.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: Lihat resep.
Pamakaian luar: Daun secukupnya setelah dicuci bersih digiling halus sampai seperti bubur, dipakai sebagal tapal (pemakaian setempat) pada gondongan, rheumatism, jerawat, panu.
CARA PEMAKAIAN:
1. Pagel linu:
• 1 genggam daun belimbing wuiuh yang masih muda, 10 biji cengkeh,
• 15 biji lada, digiling halus lalu tambahkan cuka secukupnya.
• Lumurkan ketempat yang sakit.
2. Gondongan:
10 ranting muda belimbing wuiuh berikut daunnya dan 4 butir bawang merah setelah dicuci bersih lalu ditumbuk halus. Balurkan ketempat yang sakit.
3. Batuk pada anak.
Segenggam bunga belimbing wuiuh, beberapa butir adas, gula secukupnya dan air 1 cangkir, ditim selama beberapa jam. Setelah dingin disaring dengan sepotong kain, dibagi untuk 2 kali minum, pagi dan malam sewaktu perut kosong.
4. Batuk:
25 kuntum bunga belimbing wuluh, 1 jari rimpang temu-giring, 1 jari kulit kayu manis, 1 jari rimpang kencur, 2 butir bawang merah, 1/4 genggam pegagan, 1/4 genggam daun saga, 1/4 genggam daun inggu, 1/4 genggam daun sendok, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, diminum dengan madu seperlunya. Sehari 3 kali 3/4 gelas.
4. Batuk rejan:
• 10 buah belimbing. wuluh dicuci lalu ditumbuk halus-halus, diremas dengan 2 sendok makan air garam, lalu disaring. Minum, lakukan 2 kali sehari.
• Buah belimbing wuiuh dibuat manisan, sehari makan 3 x 6-8 buah.
5. Rematik :
• 100 gr daun muda belimbing wuluh, 10 biji cengkeh dan 15 biji merica dicuci lalu digiling halus, tambahkan cuka secukupnya sampai menjadi adonan seperti bubur. Oleskan adonan bubur tadi ketempat yang sakit.
• 5 buah belimbing wuluh, 8 lembar daun kantil (Michelia champaca L.), 15 biji cengkeh, 15 butir lada hitam, dicuci lalu ditumbuk halus, diremas dengan 2 sendok makan air jeruk nipis dan 1 sendok makan minyak kayu putih. Dipakai untuk menggosok dan mengurut bagian tubuh yang sakit. Lakukan 2-3 kali sehari.
6. Sariawan:
• Segenggarn bunga belimbing wuluh, gula jawa secukupnya dan 1 cangkir air direbus sampai kental. Setelah dingin disaring, dipakai untuk membersihkan mulut dan mengoles sariawan.
• 2/3 genggam bunga belimbing wuiuh, dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum, sehari 3 kali 3/4 gelas.
• 3 buah belimbing wuitjh, 3 butir bawang merah, 1 buah pala yang muda, 10 lembar daun seriawan, 3/4 sendok teh adas, 3/4 jari pulosari, dicuci lalu ditumbuk halus, diremas dengan 3 sendok makan minyak kelapa, diperas lalu disaring. Dipakai untuk mengoles luka-luka akibat sariawan, 6-7 kali sehari.
7. Jerawat:
• Buah belimbing wuluh secukupnya dicuci lalu ditumbuk halus, diremas dengan air garam seperlunya, untuk menggosok muka yang berjerawat. Lakukan 3 kali sehari,
• buah belimbing wuluh dan 1/2 sendok teh bubuk belerang, digiling halus lalu diremas dengan 2 sendok makan air jeruk nipis. Ramuan ini dipakai untuk menggosok dan melumas muka yang berjerawat. Lakukan 2-3 kali sehari.
8. Panu:
10 buah belimbing wuluh dicuci lalu digiling halus, tambahkan kapur sirih sebesarbiji asam, diremas sampai rata. Ramuan ini dipakai untuk menggosok kulit yang terserang panu. Lakukan 2 kali sehari.
9. Darah tinggi.
• 3 buah belimbing wuluh dicuci lalu dipotong-potong seperlunya, direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum setelah makan pagi.
• 10 buah belimbing wuiuh, 1 jari rimpang kunyit, 1/4 genggam daun meniran, 3 jari labu air, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, minum. Sehari 3 x 3/4 gelas.
10. Sariawan usus, getah empedu sedikit : Buah diolah menjadi selai, makan.
11. Sakit gigi berlubang:
5 buah belimbing wuiuh dicuci bersih, makan dengan sedikit garam, kunyah ditempat gigi yang berlubang.
Obat Tradisional
Jambu Biji Obat HIV
Tak jelas mengapa jambu ini dinamai klutuk. Mungkin karena buahnya punya beribu biji, yang kalau dikunyah berbunyi gemerutuk.
Mungkin juga ada sebab lain yang "tak tercatat dalam sejarah". Namun, apalah arti sebuah nama. Apalagi jika jambu itu ternyata punya khasiat istimewa.
Bisa dimaklumi kalau sebagian besar Anda lebih mengenal buah jambu klutuk (Psidium guajava) sebagai makanan di waktu senggang (atau saat tak ada penganan lain yang bisa disantap).
Ada juga yang menyebutnya sebagai buah "terkutuk". Biji buah tropis yang keras dan banyak ini memang cukup mengganggu. Apalagi jika biji-biji itu masuk ke sela-sela gigi berlubang, butuh usaha ekstra untuk mengungkitnya.
Tapi siapa sangka, di balik kekerasan isinya, terdapat kemampuan menyembuhkan banyak penyakit. Tak hanya buahnya, daun dan batang klutuk pun bermanfaat. Bahkan, air seduhan daun jambu biji itu kini tengah diteliti secara intensif, karena "dicurigai" punya potensi menghambat, bahkan membunuh virus penyakit demam berdarah dan HIV.
Keluarga obat
Di Cina dan Asia Tenggara sendiri, jambu klutuk alias guajava, terutama daunnya, sudah sejak lama dikenal sebagai obat.
Mulai obat penyembuh radang usus besar, menghilangkan infeksi, penyembuh diare, disentri, sampai obat untuk menghentikan perdarahan. Bahkan di pedesaan, tumbukan daun jambu biji lazim juga digunakan sebagai obat luka karena cidera, luka karena perdarahan, serta bisul-bisul.
Jambu biji memang diketahui memiliki sejumlah zat aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat, terutama daunnya, yang banyak mengandung minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guaja vermin, dan beberapa vitamin, terutama vitamin A, B, C berikut beberapa mineral. Khusus daunnya, diperkirakan bisa mengandung hingga 9% eutenol, 3% damar, dan kalsium oksalat.
Menurut sejumlah literatur yang membahas obat-obatan tradisional, potensi obat tumbuhan jambu klutuk memang sangat lengkap. Bukan hanya daunnya yang kaya zat-zat penyembuh. Tapi juga buah, bunga, dan kulit batangnya.
Akar dan kulit batang jambu klutuk dapat digunakan sebagai decoct atau infusum, obat diare, atau gastroenteritis (radang selaput lendir lambung dan usus) terutama pada anak-anak. Selain itu, batangnya bisa juga digunakan sebagai obat sariawan. Bahkan di pedesaan, seduhan campuran daun jambu biji dengan daun sirih, kerap digunakan untuk mencuci lubang senggama agar tidak gatal-gatal karena bakteri.
Jambu biji sendiri sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Dia berasal dari kawasan tropis Amerika, kemudian menyebar antara lain ke Malaysia, India, Sri Lanka, Vietnam, Indonesia, dan kawasan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini bisa tumbuh di berbagai tempat berbeda. Mulai dataran rendah (pantai) sampai dataran tinggi berketinggian 1.200 m di atas permukaan laut.
Dia juga dapat tumbuh sembarang, baik di lapangan terbuka maupun semak belukar. Banyak penduduk yang menanam tumbuhan ini sebagai tanaman pekarangan, tapi anehnya jarang yang membudidayakannya sebagai tanaman kebun. Pamornya seolah-olah masih kalah dengan keluarga jambu lainnya. Padahal, nilai ekonomis jambu klutuk tidak kalah dengan jambu air, misalnya.
Jambu klutuk lazimnya berbunga pada bulan September - Oktober, serta berbuah pada bulan Februari - Maret setiap tahunnya. Perbanyakan tanaman lebih sering dilakukan dengan mencangkok. Bukan berarti menanam langsung dari bijinya dilarang. Namun, cara terakhir ini kurang praktis, karena butuh waktu lebih lama. Buah mudanya agak keras, tapi makin masak (berwarna kuning) makin lunak pula dagingnya.
Bentuk buahnya ada yang bulat, ada pula yang lonjong. Sedangkan kulit buahnya tipis, sehingga orang jarang mengupasnya sebelum dimakan. Buah yang sudah masak bagian dalamnya berwarna merah atau kuning, berasa manis atau ada pula yang manis keasaman, karena banyak mengandung vitamin C. Jadi, kalau Anda punya kebun jambu klutuk di pekarangan, tak usah repot-repot lagi beli suplemen vitamin C.
Terakhir, sekadar informasi, puluhan pakar dari sebuah Fakultas Kedokteran di Taipei dua ta-hun terakhir ini tengah bergelut mencari dan mengembangkan senyawa aktif yang dapat menghambat perkembangan HIV. Prof. Yang Ling Ling, ketua tim peneliti tersebut menyatakan, timnya telah menemukan senyawa flavonoid dari beberapa tanaman yang dapat menghambat perkembangan HIV. Salah satunya, ya si guajava tadi. Anda masih percaya si klutuk buah terkutuk? (intisari)
Penulis: H. Unus Suriawiria, Guru Besar Bioteknologi dan Agroindustri, di Bandung
Tak jelas mengapa jambu ini dinamai klutuk. Mungkin karena buahnya punya beribu biji, yang kalau dikunyah berbunyi gemerutuk.
Mungkin juga ada sebab lain yang "tak tercatat dalam sejarah". Namun, apalah arti sebuah nama. Apalagi jika jambu itu ternyata punya khasiat istimewa.
Bisa dimaklumi kalau sebagian besar Anda lebih mengenal buah jambu klutuk (Psidium guajava) sebagai makanan di waktu senggang (atau saat tak ada penganan lain yang bisa disantap).
Ada juga yang menyebutnya sebagai buah "terkutuk". Biji buah tropis yang keras dan banyak ini memang cukup mengganggu. Apalagi jika biji-biji itu masuk ke sela-sela gigi berlubang, butuh usaha ekstra untuk mengungkitnya.
Tapi siapa sangka, di balik kekerasan isinya, terdapat kemampuan menyembuhkan banyak penyakit. Tak hanya buahnya, daun dan batang klutuk pun bermanfaat. Bahkan, air seduhan daun jambu biji itu kini tengah diteliti secara intensif, karena "dicurigai" punya potensi menghambat, bahkan membunuh virus penyakit demam berdarah dan HIV.
Keluarga obat
Di Cina dan Asia Tenggara sendiri, jambu klutuk alias guajava, terutama daunnya, sudah sejak lama dikenal sebagai obat.
Mulai obat penyembuh radang usus besar, menghilangkan infeksi, penyembuh diare, disentri, sampai obat untuk menghentikan perdarahan. Bahkan di pedesaan, tumbukan daun jambu biji lazim juga digunakan sebagai obat luka karena cidera, luka karena perdarahan, serta bisul-bisul.
Jambu biji memang diketahui memiliki sejumlah zat aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat, terutama daunnya, yang banyak mengandung minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guaja vermin, dan beberapa vitamin, terutama vitamin A, B, C berikut beberapa mineral. Khusus daunnya, diperkirakan bisa mengandung hingga 9% eutenol, 3% damar, dan kalsium oksalat.
Menurut sejumlah literatur yang membahas obat-obatan tradisional, potensi obat tumbuhan jambu klutuk memang sangat lengkap. Bukan hanya daunnya yang kaya zat-zat penyembuh. Tapi juga buah, bunga, dan kulit batangnya.
Akar dan kulit batang jambu klutuk dapat digunakan sebagai decoct atau infusum, obat diare, atau gastroenteritis (radang selaput lendir lambung dan usus) terutama pada anak-anak. Selain itu, batangnya bisa juga digunakan sebagai obat sariawan. Bahkan di pedesaan, seduhan campuran daun jambu biji dengan daun sirih, kerap digunakan untuk mencuci lubang senggama agar tidak gatal-gatal karena bakteri.
Jambu biji sendiri sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Dia berasal dari kawasan tropis Amerika, kemudian menyebar antara lain ke Malaysia, India, Sri Lanka, Vietnam, Indonesia, dan kawasan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini bisa tumbuh di berbagai tempat berbeda. Mulai dataran rendah (pantai) sampai dataran tinggi berketinggian 1.200 m di atas permukaan laut.
Dia juga dapat tumbuh sembarang, baik di lapangan terbuka maupun semak belukar. Banyak penduduk yang menanam tumbuhan ini sebagai tanaman pekarangan, tapi anehnya jarang yang membudidayakannya sebagai tanaman kebun. Pamornya seolah-olah masih kalah dengan keluarga jambu lainnya. Padahal, nilai ekonomis jambu klutuk tidak kalah dengan jambu air, misalnya.
Jambu klutuk lazimnya berbunga pada bulan September - Oktober, serta berbuah pada bulan Februari - Maret setiap tahunnya. Perbanyakan tanaman lebih sering dilakukan dengan mencangkok. Bukan berarti menanam langsung dari bijinya dilarang. Namun, cara terakhir ini kurang praktis, karena butuh waktu lebih lama. Buah mudanya agak keras, tapi makin masak (berwarna kuning) makin lunak pula dagingnya.
Bentuk buahnya ada yang bulat, ada pula yang lonjong. Sedangkan kulit buahnya tipis, sehingga orang jarang mengupasnya sebelum dimakan. Buah yang sudah masak bagian dalamnya berwarna merah atau kuning, berasa manis atau ada pula yang manis keasaman, karena banyak mengandung vitamin C. Jadi, kalau Anda punya kebun jambu klutuk di pekarangan, tak usah repot-repot lagi beli suplemen vitamin C.
Terakhir, sekadar informasi, puluhan pakar dari sebuah Fakultas Kedokteran di Taipei dua ta-hun terakhir ini tengah bergelut mencari dan mengembangkan senyawa aktif yang dapat menghambat perkembangan HIV. Prof. Yang Ling Ling, ketua tim peneliti tersebut menyatakan, timnya telah menemukan senyawa flavonoid dari beberapa tanaman yang dapat menghambat perkembangan HIV. Salah satunya, ya si guajava tadi. Anda masih percaya si klutuk buah terkutuk? (intisari)
Penulis: H. Unus Suriawiria, Guru Besar Bioteknologi dan Agroindustri, di Bandung
Kultur jaringan
PERBANYAK BIBIT PISANG SECARA KULTUR JARINGAN
PENDAHULUAN
Teknik Kultur Jaringan adalah mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap
Keuntungan Kultur Jaringan adalah :
• Menghasilkan bibit dalam jumlah banyak, bermutu, seragam dalam waktu singkat
• Sifat tanaman sama dengan induknya
• Kesehatan bibit lebih terjamin
• Kecepatan tumbuh lebih cepat dibanding konvensional
Langkah-langkah dalam proses Kultur Jaringan meliputi :
• Pembuatan media
• Inisiasi
• Sterilisasi
• Multiplikasi
• Pengakaran
• Aklimatisasi
Media
Merupakan faktor penentu dalam perbanyak secara Kultur Jaringan.
Komposisi Media (MS) dalam Kultur Jaringan pisang adalah sebagai berikut :
• Garam Mineral mg/l
• NH4N03 1650
• KN03 1900
• CaCl2.2H20 440
• MgS04.7H20 370
• KH2P04 170
• FeS04.7H20 27,8
• Na2EDTA 37,3
• MnS04.4H20 22,3
• ZnS04.7H20 8,6
• H3B03 6,2
• KI 0,83
• Na2Mo04.2H20 0,25
• CuS04.5H20 0,025
• CoC12.6H20 0,025
• Vitamin mg/l
• Myo-inositol 100
• Pyridoxine 0,5
• Niacine 0,5
• Thiamine 0,1
• Glycine 2,0
•
• Hormon mg/l
• BAP 5-10
• NAA 0,1-0,5
Bahan tambahan : Gula 30 g/l, air kelapa 150 ml/l, agar 6,2 g/l, pH 5,6-5,8
Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan di Kultur
• Anakan
• Cuci dengan air mengalir
• Dikecilkan dengan pisau
• Dimasukan dalam media
Sterilisasi
• Sterilisasi luar :
Eksplan direndam dalam larutan Agrimycine 2 mg/l dan Benlate 2 mg/l selama 1 -24 jam
• Sterilisasi dalam Laminar Air Flow
§ Rendam eksplan dalam larutan clorox 30% selama 15 menit
§ Bilas 2 x dengan air steril
§ Kupas 1-2 pelepah
§ Rendam dalam larutan clorox 15% selama 10 menit
§ Bilas 2x dengan air steril
§ Kupas 1-2 pelepah
§ Kupas sampai sisa 3 daun pelepah ukuran 1,5 x 1,5 cm
§ Celup dalam larutan clorox 1% dan tanam di media
Lama waktu inisiasi dalam kondisi normal adala 4 minggu (minimal telah 2 x subkultur), selanjutnya masuk tahap multiplikasi
Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan pemotongan dan pemindahan eksplan ke media baru
Pengakaran
Hasil multiplikasi selanjutnya dipindah dalam media pengakaran sehingga terbentuk tanaman yang sempurna (planlet)
Media pengakaran adalah MS + 5 ppm NAA + Charcoal 1 g/l
Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian palnlet dari kondisi mikro dalam botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof)
Pemilihan Kultur
Botol kultur dipelihara dalam ruang kultur aseptik (steril) dengan suhu 18-25 C dan intensitas cahaya 3000 - 10.000 lux selama 16 jam/hari.
Diposting
Sadish balasubramian, Perbanyakan Bibit Pisang Secara Kultur Jaringan, Blogsome
PENDAHULUAN
Teknik Kultur Jaringan adalah mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap
Keuntungan Kultur Jaringan adalah :
• Menghasilkan bibit dalam jumlah banyak, bermutu, seragam dalam waktu singkat
• Sifat tanaman sama dengan induknya
• Kesehatan bibit lebih terjamin
• Kecepatan tumbuh lebih cepat dibanding konvensional
Langkah-langkah dalam proses Kultur Jaringan meliputi :
• Pembuatan media
• Inisiasi
• Sterilisasi
• Multiplikasi
• Pengakaran
• Aklimatisasi
Media
Merupakan faktor penentu dalam perbanyak secara Kultur Jaringan.
Komposisi Media (MS) dalam Kultur Jaringan pisang adalah sebagai berikut :
• Garam Mineral mg/l
• NH4N03 1650
• KN03 1900
• CaCl2.2H20 440
• MgS04.7H20 370
• KH2P04 170
• FeS04.7H20 27,8
• Na2EDTA 37,3
• MnS04.4H20 22,3
• ZnS04.7H20 8,6
• H3B03 6,2
• KI 0,83
• Na2Mo04.2H20 0,25
• CuS04.5H20 0,025
• CoC12.6H20 0,025
• Vitamin mg/l
• Myo-inositol 100
• Pyridoxine 0,5
• Niacine 0,5
• Thiamine 0,1
• Glycine 2,0
•
• Hormon mg/l
• BAP 5-10
• NAA 0,1-0,5
Bahan tambahan : Gula 30 g/l, air kelapa 150 ml/l, agar 6,2 g/l, pH 5,6-5,8
Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan di Kultur
• Anakan
• Cuci dengan air mengalir
• Dikecilkan dengan pisau
• Dimasukan dalam media
Sterilisasi
• Sterilisasi luar :
Eksplan direndam dalam larutan Agrimycine 2 mg/l dan Benlate 2 mg/l selama 1 -24 jam
• Sterilisasi dalam Laminar Air Flow
§ Rendam eksplan dalam larutan clorox 30% selama 15 menit
§ Bilas 2 x dengan air steril
§ Kupas 1-2 pelepah
§ Rendam dalam larutan clorox 15% selama 10 menit
§ Bilas 2x dengan air steril
§ Kupas 1-2 pelepah
§ Kupas sampai sisa 3 daun pelepah ukuran 1,5 x 1,5 cm
§ Celup dalam larutan clorox 1% dan tanam di media
Lama waktu inisiasi dalam kondisi normal adala 4 minggu (minimal telah 2 x subkultur), selanjutnya masuk tahap multiplikasi
Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan pemotongan dan pemindahan eksplan ke media baru
Pengakaran
Hasil multiplikasi selanjutnya dipindah dalam media pengakaran sehingga terbentuk tanaman yang sempurna (planlet)
Media pengakaran adalah MS + 5 ppm NAA + Charcoal 1 g/l
Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian palnlet dari kondisi mikro dalam botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof)
Pemilihan Kultur
Botol kultur dipelihara dalam ruang kultur aseptik (steril) dengan suhu 18-25 C dan intensitas cahaya 3000 - 10.000 lux selama 16 jam/hari.
Diposting
Sadish balasubramian, Perbanyakan Bibit Pisang Secara Kultur Jaringan, Blogsome
Durian
DURIAN Bukan Buah Terlarang!
Meskipun mendapat julukan The King of the Fruit, rajanya buah, durian menjadi buah yang kontroversial. Perbedaan pendapat itu seputar berbahaya atau tidak mengonsumsi durian bagi kesehatan si konsumen. Buah bergizi tinggi ini bukan buah terlarang, karena kadar lemaknya jauh lebih rendah dibanding lemak hewani.
Kekayaan alam yang kita miliki patut untuk disyukuri. Alam tropis Indonesia memberikan anugerah yang cukup besar berupa keragaman hayati. Beragam flora tumbuh dan berkembang dengan baik di negeri ini, di antaranya adalah buah-buahan.
Banyak jenis buah tropis menjadi kegemaran turis asing dan lokal, sehingga merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka. Kunjungan ke kebun-kebun buah yang telah dijadikan obyek agrowisata merupakan bukti akan hal tersebut.
Untuk memenuhi permintaan konsumen akan buah di luar negeri, telah dilakukan ekspor ke beberapa negara. Ini menjadi bukti, bahwa anggapan mutu buah-buahan lokal kalah dengan buah impor, tidak sepenuhnya benar.
Namun kenyataan membanjirnya buah impor di pasaran, diakibatkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi buah untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
Meningkatnya konsumsi buah-buahan menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi masyarakat akan pentingnya vitamin dan mineral. Buah-buahan juga merupakan sumber serat pangan (dietary fibre) yang sangat berguna bagi kelancaran proses pencernaan makanan di dalam tubuh manusia, sehingga sangat bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, stroke, dan berbagai kanker.
Banyak buah-buahan Indonesia yang dimasukkan ke dalam kategori buah unggul. Namun demikian, baru sekitar sembilan jenis buah yang varietas unggulnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Kesembilan jenis buah tersebut adalah anggur, apel, alpukat, belimbing, durian, mangga, nangka, rambutan dan salak. Di antara kesembilan jenis buah tersebut, durianlah yang memiliki varietas unggul terbanyak.
Rajanya Buah
Durian (Durio zibenthinus Murr.) mendapat julukan sebagai The King of the Fruit. Buah ini sudah dikenal dan banyak dibudidayakan di daerah tropis terutama Indonesia.
Produksi yang melimpah dan banyak disukai menyebabkan durian mempunyai prospek yang baik. Rasanya yang lezat dan aromanya yang khas menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar buah berduri ini.
Pada awalnya, tanaman ini tumbuh liar dan terpencar-pencar di hutan Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, Thailand, India dan Pakistan. Seiring dengan perkembangannya tersebut, kini telah ditemukan 300 spesies yang bermarga Durio di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, telah ditemukan sekitar 27 spesies. Akan tetapi dari jumlah spesies tersebut, baru enam spesies yang umum dikonsumsi masyarakat
Durio zibenthinus Murr. merupakan spesies yang sangat digemari masyarakat dan paling sukses dibudidayakan. Tanaman ini termasuk tanaman musiman berasal dari Kalimantan dan Sumatera. Secara morfologi buah durian ini dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu kulit, daging buah dan biji. Pada bagian kulit luar (perikarp) buah durian memiliki duri-duri yang sangat tajam.
Tanaman durian memiliki sosok berupa pohon tinggi yang dapat mencapai ketinggian 50 meter, dan dapat tumbuh mencapai umur ratusan tahun. Warna daging buahnya pun bervariasi, yaitu putih, krem, kuning muda, kuning kehijauan dan ada pula yang berwarna kuning tembaga. Di dalam buah terdapat pongge, yaitu biji yang diselimuti oleh daging buah.
Tanaman ini dapat tumbuh baik pada tempat yang subur, bertanah gembur dan tidak bercadas. Dalam setiap musim, jumlah buah yang dihasilkan bisa sekitar 80-100 buah per pohon, tergantung besarnya pohon.
Sedangkan pohon yang telah cukup tua, bisa menghasilkan 200 buah per pohon. Musim berbunga pohon durian dimulai pada bulan Juni sampai September, dan buah akan menjadi matang pada bulan Oktober sampai Februari.
Durian dapat dikembangbiakkan melalui tiga cara, yaitu secara vegetatif, generatif, serta campuran antara vegetatif dan generatif. Namun umumnya durian diperbanyak secara generatif dengan menggunakan biji. Perbanyakan ini akan menghasilkan keturunan yang bervariasi, dengan sifat-sifat yang berlainan dari sifat tanaman induk, karena durian adalah tanaman yang menyerbuk silang.
Untuk mempertahankan sifat-sifat yang sama dengan tanaman induk, maka ada pula yang dilakukan dengan perbanyakan vegetatif. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan okulasi (penempelan mata atau budding).
Varietas Unggul
Harga durian yang bervariasi sangat ditentukan oleh faktor keunggulannya.
Semakin unggul jenisnya, semakin tinggi pula harganya. Saat ini Menteri Pertanian telah melepas 13 jenis varietas durian sebagai varietas unggul.
Ketigabelas varietas itu adalah durian bokor (asal Majalengka), durian kani (introduksi dari Thailand), durian otong (introduksi dari Thailand), durian perwira (asal Majalengka), durian petruk (asal Jepara), durian si dodol (asal Kalimantan Selatan), durian si hijau (asal Kalimantan Selatan), durian si japang (asal Kalimantan Selatan), durian si mas (asal Bogor), durian si tokong (asal Pasar Minggu), durian si riwig (asal Majalengka), durian sukun (asal Gempolan), dan durian sunan (asal Boyolali).
Durian-durian tersebut sering diekspor, tetapi secara kuantitatif belum memenuhi permintaan pasar. Secara umum perbedaan-perbedaan yang terdapat pada durian jenis unggul tersebut terletak pada penampilan, warna, serta daging buahnya.
Kehadiran durian monthong (asal Thailand), memiliki keharuman nama tersendiri. Sifat-sifat yang dikatakan unggul pada durian monthong adalah rasa daging buahnya yang manis, berwarna kuning, tebal serta berbiji kecil, bahkan kadangkala kempes, aroma tajam dan khas. Keunggulan lainnya adalah penampilan tajuk pohon yang bercabang rendah dan berbuah lebat.
Selain durian unggul di atas terdapat jenis buah lain, yaitu durian parung. Buah durian parung berbentuk bulat memanjang berwarna hijau keabuan, daging buah tebal dan berwarna kuning, sedikit berserat dan biji berukuran kecil.
Semakin Berlemak, Semakin Gurih
Bagian yang dapat dimakan dari satu buah durian adalah sekitar 22%, yaitu bagian daging buahnya.
Bagian lainnya adalah kulit luar (pericarp) dan biji (pongge). Bagian kulit biasanya dibuang, sedangkan bagian biji dapat diolah menjadi tepung, keripik atau dimakan setelah direbus.
Daging buah durian dapat dimakan dalam keadaan segar atau diolah menjadi berbagai produk olahan. Di Palembang dan daerah Sumatera lainnya, daging buah durian umumnya diolah menjadi tempoyak, yaitu bubur buah yang ditambah garam dan difermentasi (diragikan), dapat digunakan sebagai lauk pauk.
Selain itu, daging buah durian juga dapat diolah menjadi dodol durian, keripik durian (seperti keripik nangka), bahan campuran es krim atau es putar. Daging buah yang hampir masak dapat digunakan untuk sayuran.
Dalam perkembangannya saat ini, daging buah durian juga dapat diawetkan dengan cara dibekukan atau dikalengkan.
Komposisi gizi buah durian sangat beragam, tergantung dari jenis, umur buah (kematangan) serta tempat tumbuhnya. Namun secara umum, buah durian mempunyai kandungan gizi yang cukup. @
Prof. DR. Made Astaman, MS, Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB
Meskipun mendapat julukan The King of the Fruit, rajanya buah, durian menjadi buah yang kontroversial. Perbedaan pendapat itu seputar berbahaya atau tidak mengonsumsi durian bagi kesehatan si konsumen. Buah bergizi tinggi ini bukan buah terlarang, karena kadar lemaknya jauh lebih rendah dibanding lemak hewani.
Kekayaan alam yang kita miliki patut untuk disyukuri. Alam tropis Indonesia memberikan anugerah yang cukup besar berupa keragaman hayati. Beragam flora tumbuh dan berkembang dengan baik di negeri ini, di antaranya adalah buah-buahan.
Banyak jenis buah tropis menjadi kegemaran turis asing dan lokal, sehingga merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka. Kunjungan ke kebun-kebun buah yang telah dijadikan obyek agrowisata merupakan bukti akan hal tersebut.
Untuk memenuhi permintaan konsumen akan buah di luar negeri, telah dilakukan ekspor ke beberapa negara. Ini menjadi bukti, bahwa anggapan mutu buah-buahan lokal kalah dengan buah impor, tidak sepenuhnya benar.
Namun kenyataan membanjirnya buah impor di pasaran, diakibatkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi buah untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
Meningkatnya konsumsi buah-buahan menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi masyarakat akan pentingnya vitamin dan mineral. Buah-buahan juga merupakan sumber serat pangan (dietary fibre) yang sangat berguna bagi kelancaran proses pencernaan makanan di dalam tubuh manusia, sehingga sangat bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, stroke, dan berbagai kanker.
Banyak buah-buahan Indonesia yang dimasukkan ke dalam kategori buah unggul. Namun demikian, baru sekitar sembilan jenis buah yang varietas unggulnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Kesembilan jenis buah tersebut adalah anggur, apel, alpukat, belimbing, durian, mangga, nangka, rambutan dan salak. Di antara kesembilan jenis buah tersebut, durianlah yang memiliki varietas unggul terbanyak.
Rajanya Buah
Durian (Durio zibenthinus Murr.) mendapat julukan sebagai The King of the Fruit. Buah ini sudah dikenal dan banyak dibudidayakan di daerah tropis terutama Indonesia.
Produksi yang melimpah dan banyak disukai menyebabkan durian mempunyai prospek yang baik. Rasanya yang lezat dan aromanya yang khas menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar buah berduri ini.
Pada awalnya, tanaman ini tumbuh liar dan terpencar-pencar di hutan Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, Thailand, India dan Pakistan. Seiring dengan perkembangannya tersebut, kini telah ditemukan 300 spesies yang bermarga Durio di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, telah ditemukan sekitar 27 spesies. Akan tetapi dari jumlah spesies tersebut, baru enam spesies yang umum dikonsumsi masyarakat
Durio zibenthinus Murr. merupakan spesies yang sangat digemari masyarakat dan paling sukses dibudidayakan. Tanaman ini termasuk tanaman musiman berasal dari Kalimantan dan Sumatera. Secara morfologi buah durian ini dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu kulit, daging buah dan biji. Pada bagian kulit luar (perikarp) buah durian memiliki duri-duri yang sangat tajam.
Tanaman durian memiliki sosok berupa pohon tinggi yang dapat mencapai ketinggian 50 meter, dan dapat tumbuh mencapai umur ratusan tahun. Warna daging buahnya pun bervariasi, yaitu putih, krem, kuning muda, kuning kehijauan dan ada pula yang berwarna kuning tembaga. Di dalam buah terdapat pongge, yaitu biji yang diselimuti oleh daging buah.
Tanaman ini dapat tumbuh baik pada tempat yang subur, bertanah gembur dan tidak bercadas. Dalam setiap musim, jumlah buah yang dihasilkan bisa sekitar 80-100 buah per pohon, tergantung besarnya pohon.
Sedangkan pohon yang telah cukup tua, bisa menghasilkan 200 buah per pohon. Musim berbunga pohon durian dimulai pada bulan Juni sampai September, dan buah akan menjadi matang pada bulan Oktober sampai Februari.
Durian dapat dikembangbiakkan melalui tiga cara, yaitu secara vegetatif, generatif, serta campuran antara vegetatif dan generatif. Namun umumnya durian diperbanyak secara generatif dengan menggunakan biji. Perbanyakan ini akan menghasilkan keturunan yang bervariasi, dengan sifat-sifat yang berlainan dari sifat tanaman induk, karena durian adalah tanaman yang menyerbuk silang.
Untuk mempertahankan sifat-sifat yang sama dengan tanaman induk, maka ada pula yang dilakukan dengan perbanyakan vegetatif. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan okulasi (penempelan mata atau budding).
Varietas Unggul
Harga durian yang bervariasi sangat ditentukan oleh faktor keunggulannya.
Semakin unggul jenisnya, semakin tinggi pula harganya. Saat ini Menteri Pertanian telah melepas 13 jenis varietas durian sebagai varietas unggul.
Ketigabelas varietas itu adalah durian bokor (asal Majalengka), durian kani (introduksi dari Thailand), durian otong (introduksi dari Thailand), durian perwira (asal Majalengka), durian petruk (asal Jepara), durian si dodol (asal Kalimantan Selatan), durian si hijau (asal Kalimantan Selatan), durian si japang (asal Kalimantan Selatan), durian si mas (asal Bogor), durian si tokong (asal Pasar Minggu), durian si riwig (asal Majalengka), durian sukun (asal Gempolan), dan durian sunan (asal Boyolali).
Durian-durian tersebut sering diekspor, tetapi secara kuantitatif belum memenuhi permintaan pasar. Secara umum perbedaan-perbedaan yang terdapat pada durian jenis unggul tersebut terletak pada penampilan, warna, serta daging buahnya.
Kehadiran durian monthong (asal Thailand), memiliki keharuman nama tersendiri. Sifat-sifat yang dikatakan unggul pada durian monthong adalah rasa daging buahnya yang manis, berwarna kuning, tebal serta berbiji kecil, bahkan kadangkala kempes, aroma tajam dan khas. Keunggulan lainnya adalah penampilan tajuk pohon yang bercabang rendah dan berbuah lebat.
Selain durian unggul di atas terdapat jenis buah lain, yaitu durian parung. Buah durian parung berbentuk bulat memanjang berwarna hijau keabuan, daging buah tebal dan berwarna kuning, sedikit berserat dan biji berukuran kecil.
Semakin Berlemak, Semakin Gurih
Bagian yang dapat dimakan dari satu buah durian adalah sekitar 22%, yaitu bagian daging buahnya.
Bagian lainnya adalah kulit luar (pericarp) dan biji (pongge). Bagian kulit biasanya dibuang, sedangkan bagian biji dapat diolah menjadi tepung, keripik atau dimakan setelah direbus.
Daging buah durian dapat dimakan dalam keadaan segar atau diolah menjadi berbagai produk olahan. Di Palembang dan daerah Sumatera lainnya, daging buah durian umumnya diolah menjadi tempoyak, yaitu bubur buah yang ditambah garam dan difermentasi (diragikan), dapat digunakan sebagai lauk pauk.
Selain itu, daging buah durian juga dapat diolah menjadi dodol durian, keripik durian (seperti keripik nangka), bahan campuran es krim atau es putar. Daging buah yang hampir masak dapat digunakan untuk sayuran.
Dalam perkembangannya saat ini, daging buah durian juga dapat diawetkan dengan cara dibekukan atau dikalengkan.
Komposisi gizi buah durian sangat beragam, tergantung dari jenis, umur buah (kematangan) serta tempat tumbuhnya. Namun secara umum, buah durian mempunyai kandungan gizi yang cukup. @
Prof. DR. Made Astaman, MS, Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB
Langganan:
Postingan (Atom)
